Get to Know About Self-Harm
Mungkin banyak dari kalian yang belum tahu apa itu self-harm karena aku yakin tidak semua dari kalian mengalami masalah di kesehatan mental kalian. Dan sebagian besar masyarakat masih menutup telinga dan menganggap pembahasan seperti ini adalah suatu hal yang sangat tabu untuk dibicarakan. Dengan kondisi yang seperti itu, akan sulit bagi kita untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental dan perilaku yang menjadi dampak dari terganggunya kesehatan mental. Kali ini aku akan membahas sedikit banyak tentang self-harm. Self-harm atau perilaku menyakiti diri sendiri sering terjadi pada orang-orang yang menderita gangguan di kesehatan mental mereka seperti depresi, skizofrenia, anxiety disorder, dan lain sebagainya.
"How do you know about it? Kenapa seberani ini untuk speak up?"
Of course I know, because I suffer from major depression and do self harm too, hehe. Tapi aku mau ingetin kalian kalau self-harm bukan jalan keluar dan bukan hal yang baik untuk dilakukan, meskipun itu bisa mengurangi dan merepresentasikan seberapa dalam rasa sakit di hati kalian. Kenapa berani speak up? Karena masalah seperti ini sudah banyak menjalar di tengah masyarakat dan mereka tidak sadar akan hal itu. Dan disini aku ingin membuka sedikit pikiran dan pandangan kalian tentang orang-orang yang melakukan self-harm, agar tidak ada lagi stigma negatif yang membuat mereka makin terpuruk.
"Terus kamu ngapain aja kalau self-harm? Segitu beratnya kah masalahmu sampai kamu berani melukai diri sendiri?"
Self-Harm punya banyak bentuknya. Mulai dari yang ringan seperti menampar wajah, hingga tingkat yang ekstrem seperti menyayat anggota tubuh dengan benda tajam dan self poisoning dengan overdosis obat. Mereka yang melakukan self-harm paham betul bagaimana hal itu bisa mengurangi beban di dalam hidup mereka dan mencapai kepuasan karena bisa mengeluarkan emosi mereka dalam bentuk sakit fisik.
"Lalu apa self-harm bisa disamakan dengan percobaan bunuh diri?"
Tidak. Self-Harm masuk ke dalam kategori NSSI (non suicidal self-injury) meskipun percobaan bunuh diri juga membutuhkan usaha untuk melukai diri sendiri. Namun, bagi pelaku self-harm mereka tidak berniat untuk mengakhiri hidupnya dan hanya ingin mengurangi rasa sakit dan beban yang sedang dia rasakan.
"Tapi kenapa kamu lakuin self-harm kalau kamu tahu itu tidak baik? Apa kamu mau mencari atensi dari publik?"
Oke, kita bahas satu persatu. Tidak semua orang ketika mereka punya masalah, mereka bisa menceritakannya kepada siapapun bahkan ke orang tua mereka. Karena tidak semua orang bisa memahami apa yang sedang mereka rasakan. Self-harm memang tidak baik, tapi bagi orang yang mereka tidak bisa mencari "pelampiasan" terbaik untuk menyalurkan rasa sakit hati, mereka akan menyalurkannya dalam bentuk sakit fisik. Apakah mencari atensi? Kebanyakan tidak. Orang-orang yang melakukan self-harm terkadang malu dan menyembunyikan bekas luka sayatan mereka dari mata orang-orang. Bahkan setelah mereka melakukan self-harm, mereka merasa bersalah dengan apa yang sudah mereka lakukan.
"Bagaimana jika ada yang menguploadnya di sosial media? Apakah itu bukan bagian dari mencari atensi?"
Baik, hal ini kadang terjadi namun dengan persentase yang sedikit. Orang-orang yang mengunggah foto sayatan luka mereka di sosial media ingin menunjukkan keadaan mereka saat itu dengan harapan ada orang yang bersedia menjadi tempat mereka bercerita. Dan apakah itu bagian dari mencari atensi? Iya, tetapi dalam konteks yang berbeda. Mereka melakukan itu karena berpikir harus ada pelampiasan lain selain self-harm. Mereka tidak mendapat kepuasan atau kelegaan setelah melakukan self-harm dan merasa harus menceritakan masalahnya ke orang lain.
"Apa kamu tidak ingat Tuhan pada saat itu? Dan apa kamu tidak bersyukur dengan apa yang kamu miliki?"
Sekali lagi, self-harm bukan berarti kita tidak percaya bahwa Tuhan tidak bisa membantu kita dalam menjalani ujian yang diberikan. Bukan berarti kita tidak punya iman, bahkan kita paham bahwa self-harm adalah sebuah dosa. Tapi kembali lagi kepada fakta bahwa manusia punya batas kesanggupannya masing-masing. Kita tidak bisa mengatur bagaimana manusia menjalani kehidupan dan menyelesaikan problematika kehidupan mereka. Yang bisa kita lakukan adalah membantu mereka untuk bisa keluar dari zona gelap tersebut. Bantu mereka, dukung mereka baik fisik maupun moril, karena sejatinya mereka hanya butuh didengar.
"Ada pesan untuk orang yang masih melakukan self-harm dan para pembaca pada khususnya?"
Jelas ada.
Untuk kalian teman-temanku yang masih melakukan self-harm, kalian amat sangat berharga. Setiap helai rambut, anggota tubuh kalian dari atas sampai bawah adalah titipan dari Tuhan. Kalian punya kewajiban untuk menjaganya. Ibarat kalian meminjam buku di perpustakaan, maka kalian harus mengembalikannya dengan utuh dan tanpa cacat sedikitpun. Selalu tanamkan di pikiran kalian bahwa menyakiti diri sendiri hanya akan memperburuk keadaan. Aku tahu memang tidak mudah meninggalkan kebiasaan yang menurut kalian "menguntungkan" karena bisa membuat lega, bahkan aku sendiri butuh waktu 2 tahun untuk benar-benar bisa berhenti melakukan self-harm. Namun, kalian juga harus sadar bahwa self-harm bukan satu-satunya jalan keluar. Jiwa kalian amat sangat berharga, dan tidak ada hak bagi kalian untuk merusak apa yang sudah diamanahkan Tuhan pada kalian.
Dan untuk kalian pembacaku, rangkul lah orang-orang yang melakukan self-harm. Gunakan sisi kemanusiaan kalian tanpa memandang hal itu sebagai hal yang negatif. Sebab kita tidak pernah tahu bagaimana beratnya masalah yang mereka alami. Jangan hancurkan hati mereka karena kalian punya stigma negatif dan pandangan buruk kepada mereka. Mari sama-sama mulai membuka hati nurani, pandangan, dan pikiran kita tentang kesehatan mental. Karena kita tidak pernah tahu, suatu saat kita juga bisa ada di posisi mereka.
Itu saja, teman-temanku. Just remember that you are worth more than anything!
Comments
Post a Comment